Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

Makalah Iman Kepada Hari Akhir

MAKALAH TENTANG IMAN KEPADA HARI AKHIR
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Iman kepada hari akhir rmerupakan sesuatu yang wajib kita imani sebagai umat muslim, walaupun kita tidak mengetahui kapan akan datangnya hari akhir tetapi di al-Qur’an sudah dituliskan di wajibkan untuk semua kaum muslimin untuk mengimaninya, mengimani hari akhir adalah salah satu cara agar kita bias selalu meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT, karena dari kita sudah banyak yang terlena dengan kehidupan duniawi, yang hanya mengedepankan kehidupan duniawi dan membelakangkan dunia akherat, inilah yang melatarbelakangi dibuatnya makalah ini.

B.    Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah yang dirumuskan dalam makalah ini adalah:
1.    Apa Pengertian Iman Kepada Hari Akhir?
2.    Apa nama-nama lain hari akhir?
3.    Tanda-tanda kiamat sudah dekat?
4.    Apa peristiwa yang terjadi pada hari akhir?
5.    Apa fungsi iman kepada hari akhir?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Dapat memahami apa itu hari akhir
2.    Dapat mengetahui apa nama-nama lain dari hari akhir
3.    Dapat mengetahui tanda-tanda kiamat sudah dekat
4.    Dapat mengetahui peristiwa apasaja yang terjadi pada hari akhir
5.    Dapat memahami tentang iman kepada hari akhir


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Iman kepada Hari Akhir
    Yaumul akhir atau hari akhir menurut bahasa adalah kehancuran atau kebangkitan. Sedangkan menurut istilah hari akhir adalah hari kehancuran alam semesta beserta seluruh isinya. Iman kepada hari kiamat atau hari akhir merupakan rukun iman yang kelima, tidak ada yang tahu kapan hari kiamat itu akan datang, tetapi kita sebagai muslim sudah seharusnya kita untuk mengimani dan mempercayainya. Hari kiamat diawali dengan tiupan sangkakala oleh malaikat isrofil, dimana tiupan sasangkala ini adalah untuk mematikan semua makhluk yang ada di bumi beserta isinya. Dijelaskan bahwa pada hari itu semua benda yang di langit sudah tidak beraturan lagi. Baik bintang, planet, maupun bulan saling bertabrakan. Gunung-gunung meletus, hancur, dan bertaburan. Badai, ombak sangat dahsyat, manusia pontang-panting tidak dapat mengenali sanak saudaranya, yang akhirnya semua kehidupan hancur dan mati.
Firman Allah swt dalam Q.S Al-Hajj ayat 7:


Artinya: “Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur” (QS Al-Hajj: 7)
Kejadian mengenai hari kiamat digambarkan oleh Allah SWT begitu dahsyat, sebagaimana tertuang dalam surah Al Qariah dan surat Az Zalzalah berikut.

 

Artinya : “Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”


Artinya : “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,”

B.    Nama-nama lain Hari Akhir
Adapun nama-nama lain dari Hari Akhir adalah sebagai berikut:
1. Hari akhir : hari penghabisan
2. Yaumul hisab : hari perhitungan
3. Yaumul fashli : hari keputusan
4. Yaumul jami’ : hari berkumpul
5. Yaumul tholaq : hari pertemuan
6. Yaumul hasroh : hari penyesalan
7. Yaumul qooriah : hari peristiwa besar
8. Yaumul fath : hari kemenangan
9. Yaumul ba’ats : hari kebangkitan
10. Yaumul bukka’ : hari tangisan

C.    Tanda-tanda kiamat atau hari akhir sudah dekat
1.    Terbitnya matahari dari arah barat dan terbenam dari arah timur. Hal ini terjadi karena perubahan besar dalam susunan alam semesta.
2.    Keluarnya suatu binatang yang sangat aneh. Binatang ini dapat bercakap-cakap kepada semua orang dan menunjukkan kepada manusia bahwa kiamat sudah sangat dekat.
3.    Datangnya Al-Mahdi. Beliau termasuk keturunan dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, beliau serupa benar akhlak dan budi pekertinya dengan Rasulullah SAW.
4.    Munculnya Dajal. Dajal adalah seorang yang muncul sebagai tanda semakin dekat datangnya kiamat. Dajal bermata buta sebelah dan mengaku sebagai “Tuhan”.
5.    Hilang dan lenyapnya Al-Qur’an dan mushaf, hafalan dalam hati. Bahkan lenyap pulalah yang ada di dalam hati seseorang.
6.    Berkumpulnya manusia, seperti selamatan kelahiran, khitanan, perkawinan, ulang tahun, dll. Akan tetapi tidak pernah sedikit pun dijalankan perintah-perintah-Nya serta dijauhi larangan-Nya.
7.    Turunnya Nabi Isa as. Beliau akan turun ke bumi ini di tengah-tengah merajalela pengaruh Dajal.
D.    Peristiwa yang terjadi pada hari akhir
1.    Alam barzah, yaitu batas antara alam dunia dengan alam akherat dan dapat disebut dengan alam kubur. Di alam barzah manusia sudah dapat merasakan balasan amal baik dan buruk. Firman Allah SWT :
Artinya :
“Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzah (dinding pemisah) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukmin : 100)
2.    Yaumul Ba’at, yaitu dibangkitkannya manusia dari alam kubur, setelah malaikat Isrofil meniupkan sangkakala yang kedua.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, agar kepada mereka itu dapat diperlihatkan amalan-amalannya yang sudah-sudah.” (QS. Az-Zalzalah : 6)
3.    Yaumul Mahsyar, yaitu tempat manusia berkumpul setelah bangkit dari alam kubur untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatanya.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“…….. Dan kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi : 47)
4.    Yaumul hisab, yaitu dihitungnya amal manusia tentang kebaikan dan keburukannya.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.” (QS. Al-Mukmin : 17)
5.    Yaumul mizan, yaitu hari penimbangan amal baik dan amal buruk yang dilakukan manusia selama hidupnya.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya : 47)
6.    Sirattalmustaqim
Ash-shiraath secara bahasa (etimologi) berarti jalan, sedangkan menurut syar’i (terminologi) adalah jembatan yang dibentangkan di atas Neraka Jahannam yang akan dilewati ummat manusia menuju Surga sesuai dengan amal perbuatan mereka.
7.    Surga dan Neraka
1.    Surga
Surga adalah tempat bagi orang-orang yang ikhlas beribadah, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Surga merupakan tempat di akhirat yang berisi penuh dengan kesenangan dan kegembiran. Jika keindahan di dunia bersifat sementara maka keindahan dan kesenangan di akhirat bersifat kekal.
2.    Neraka adalah suatu tempat di akhirat yang sangat tidak menyenangkan, tempat ini diperuntukkan bagi orang-orang kafir, munafik dan orang-orang yang melanggar perintah Allah. Di Neraka orang yang berbuat dosa melebihi amalnya akan mendapat siksa.

8.    Fungsi Iman kepada Hari Akhir
1.    Menambah iman serta ketaqwaan kepada Allah SWT
2.    Lebih taat kepada Allah dan Rasulullah SAW dengan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat
3.    Senantiasa hidup dengan hati-hati, waspada, dan selalu meminta ampunan kepada Allah SWT
4.    Memberi motivasi untuk beramal dan beribadah karena segala perbuatan baik akan mendapat balasan di akhirat
5.    Selalu menghiasi diri dengan berzikir kepada Allah SWT sehingga jiwa menjadi tenang.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
    Beriman kepada hari kiamat atau hari akhir merupakan rukun iman yang kelima, tidak ada yang tahu kapan hari kiamat itu akan datang, tetapi kita sebagai muslim sudah seharusnya untuk mengimani dan mempercayainya. Hari kiamat diawali dengan tiupan sangkakala oleh malaikat isrofil, dimana tiupan sasangkala ini adalah untuk mematikan semua makhluk yang ada di bumi beserta isinya. Dijelaskan bahwa pada hari itu semua benda yang di langit sudah tidak beraturan lagi. Baik bintang, planet, maupun bulan saling bertabrakan. Gunung-gunung meletus, hancur, dan bertaburan. Badai, ombak sangat dahsyat, manusia pontang-panting tidak dapat mengenali sanak saudaranya, yang akhirnya semua kehidupan hancur dan mati.
    Tanda-tanda kiamat atau hari akhir sudah dekat terbitnya matahari dari arah barat dan terbenam dari arah timur, keluarnya suatu binatang yang sangat aneh, datangnya Al-Mahdi. Beliau termasuk keturunan dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, beliau serupa benar akhlak dan budi pekertinya dengan Rasulullah SAW, munculnya Dajal, hilang dan lenyapnya Al-Qur’an dan mushaf, hafalan dalam hati. Bahkan lenyap pulalah yang ada di dalam hati seseorang, berkumpulnya manusia, seperti selamatan kelahiran, khitanan, perkawinan, ulang tahun, dll. Akan tetapi tidak pernah sedikit pun dijalankan perintah-perintah-Nya serta dijauhi larangan-Nya, turunnya Nabi Isa as. Beliau akan turun ke bumi ini di tengah-tengah merajalela pengaruh Dajal.

B.    Saran
    Kita harus selalu ingat (beriman) kepada Allah karena kita tidak akan tahu kapan akan terjadi kiamat, entah itu kiamat sugrha (kematian) ataupun kiamat kubro (kiamat).

DAFTAR PUSTAKA
Ilyas, Yunahar. 1992. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta : Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam.
Qardhawi, Yusuf. Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, terj. Ha. Abd Rahim Harits, Pustaka Darul Hikmah Bima, cet.1.th.1987.
http://aditiyacpkingdom.blogspot.com/2013/01/makalah-aqidah-semester-1-iman-kepada.html
http://ukhuwahislah.blogspot.com/2013/06/makalah-iman-kepada-hari-akhir_8.html
http://rizaljenius.wordpress.com/2009/11/07/makalah-iman-kepada-hari-kiamat/

Makalah Iman Kepada Allah

Makalah tentang Iman Kepada Allah
Fachry Faiqotul Munawaroh
12005206

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
ISLAM (Arab:”berserah diri kepada Tuhan”)adalah agama yang mengimani satu tuhan,yaitu Allah.Agama ini termasuk agama samawi(agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama ibrahim.Dengan lebih dari satu seperempatmilyar orang pengikut di seluruh dunia,menjadikan islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.Islam memiliki arti “penyerahan”,atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan(Allah). Pengikut ajaran islam dikenal dengansebutan muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan”,atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya,dan menyakini dengan sungguh sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

B.    Rumusan Masalah
1.    Pengertian Iman Kepada Allah.
2.    Apa itu Wujudullah?
3.    Apa itu asma’ wa sifat?
4.    Apa hakikat dan dampak lailahaillallah?
5.    Apakah buah Iman kepada Allah?

C.    Tujuan
1.    Dapat mengerti arti dari iman kepada Allah.
2.    Dapat mengetahui bagaimana wujud dari Allah.
3.    Mengetahu nama-nama dan sifat-sifat Allah.
4.    Mengetahui dampak dari Iman kepada Allah.
5.    Dapat memahmi buah dari iman kepada Allah.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    PENGERTIAN IMAN KEPADA ALLAH
Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Maka, beriman kepada Allah adalah membenarkan dengan yakin akan eksistensi Allah dan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya, pencipataan alam seluruhnya, maupun dalam penerimaan ibadat segenap hamba-Nya, serta membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mempunyai sifat kesempurnaan dan terhindar dari sifat kekurangan.
Pernyataan Tasdiq atau membenarkan berati suatu pengetahuan yang didasarkan atas makrifat, yakni Allah Tuhan seru sekalian alam, dengan cara memperhatikan dan memikirkan segala makhluk Allah dan kejadian dalam alam ini. Dengan cara mengenali Allah, akan tumbuh rasa cinta, takut, dan harap, yang pada gilirannya jiwa manusia menjadi khudlu’ dan khusu’ (merendahkan diri dan tunduk). Kedudukan iman kepada allah adalah sebagai dasar pokok ajaran islam. Dengan dasar iaman tersebut, semua persoalan dalam ajaran islam dapat dipecahkan.

B.    WUJUDULLAH
Wujudullah (ada)-Nya Allah SWT adalah sesuatu yang badihiyah. Namun demikian untuk membuktikan wujud-Nya dapat dikemukakan beberapa dalil, antara lain:
1.    Dalil Fitrah
Allah SWT menciptakan manusia dengan fithrah bertuhan. Akan tetapi, pembawaan fitrah tersebut sering sering dipengaruhi oleh beberapa faktor, sehingga perlu dibangkitkan kembali dengan suatu keadaan yang tidak disenangi. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Q.S Yunus 10:12, yang berbunyi:

كَأَنْ مَرَّ ضُرَّهُ عَنْهُ كَشَفْنَا فَلَمَّا قَائِمًاوْأَقَاعِدًوْأَالِجَنْبِهِدَعَانَاالضُّرُّ الْإِنْسَانَ مَسَّ وَإِذَا
يَعْمَلُونَ كَانُوا مَا لِلْمُسْرِفِينَ زُيِّنَ كَذَلِكَ مَسَّهُ ضُرٍّ إِلَى يَدْعُنَا لَمْ

Artinya:
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada kami. Dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-seolah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus 10:12)
2.    Dalil Akal
Dengan menggunakan akal pikiran untuk merenungkan dirinya sendiri, alam semesta dan lain-lainnya seorang anusia bisa membuktikan adanya Tuhan (Allah SWT). Al-Qur’an banyak mengemukakan ayat-ayat yang menggugah akal pikiran tersebut. Seperti Firman Allah dalam Q.S Al-Mu’minun 40:67, yang berbunyi:

أَشُدَّكُمْ لِتَبْلُغُوا ثُمَّ طِفْلًا يُخْرِجُكُمْ ثُمَّ عَلَقَةٍ مِنْ ثُمَّ نُطْفَةٍ مِنْ ثُمَّ تُرَابٍ مِنْ خَلَقَكُمْ الَّذِي وَلَعَلَّكُمْ مُسَمًّى أَجَلًا وَلِتَبْلُغُوا ۖقَبْلُ مِنْ هُوَ يُتَوَفَّىٰ مَنْ وَمِنْكُمْ ۚشُيُوخًا لِتَكُونُوا ثُمَّ تَعْقِلُونَ

Artinya :
“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).” (Q.S Al-Mu’minun 40:67)

3.    Dalil Naqli
Sekalipun secara fitrah manusia bisa mengakui adanya Tuhan, dan dengan akal pikiran bisa membuktikannya, namun manusia tetap memerlukan dalil naqli (Al-Qur’an dan Sunnah) untuk membimbing manusia mengenal Tuhan yang sebenarnya itu (Allah SWT).
Pembahasan tentang Allah SWT tentu akan pembaca temukan dalam bagian-bagian lain, dalam pasal wujud Allah SWT ini cukuplah penulis kemukakan beberapa hal pokok saja sebagai berikut:
a.    Allah SWT adalah  Al-Awwal artinya tidak ada permulaan bagi wujud-Nya. Dia juga  Al-Akhir artinya tidak ada akhir dari wujud-Nya. Sebagai mana firman-firman Allah sebagai berikut:
1.    QS Al-Hadid 57:3, yang artinya:
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Hadid 57:3)
2.    QS Ar-Rahman 55:26, yang artinya:
“Dan tetap kekal Wjah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS Ar-Rahman 55:26)
b.    Tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya.
Seperti firman Allah SWT dalam QS As-Syura 42:11, yang artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS As-Syura 42:11)
c.    Allah SWT Maha Esa
Seperti Firman Allah SWT dalam QS Al-Ikhlas 112:1, yang artinya:
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.” (QS Al-Ikhlas 112:1)
d.    Allah SWT mempunyai al-Asma’was Shiffat (Nama-nama dan sifat-sifat) yang disebutkan untuk diri-Nya untuk Diri-Nya di dalam Al-Qur’an serta semua nama dan sifat yang dituturkan untuk-Nya oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya seperti, Ar-Rahman, Ar-Rabiim,Al-‘Aliim, Al-Aziz, As-Sami, Al-Bashiir, dll.
Seperti firman Allah dalam QS Al-A’raf 7:180, yang artinya:
“ Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapatbbalasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raf 7:180)


C.    Al-ASMA’ WASS-SHIFAT
Al-Asma’ artinya nama-nama, dan as-Shifat artinya sifat-sifat. Allah SWT memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaan-Nya, sebagai mana disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Metode ini dengan al-asma’ was-shifat ada dua; pertama Itsbat, kedua Nafyu. Itsbat maksudnya mengimani bahwa Allah SWT memiliki al-asma’ was-shifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaan-Nya, sedangkan Nafyu maksudnya menafikkan atau menolak segala al-asma’ was-shifat yang menunjukkan ketidak sempurnaan-Nya.
Beberapa hal yang harus kita perhatikan sehubungan dengan al-asma’ was-shifat, yaitu:
1.    Janganlah memberi nama-nama Allah SWT dengan nama-nama yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman yang artinya:
“ Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapatbbalasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raf 7:180).
2.    Jangan menyamakan (tamtsil), atau memiripkan (tasybih) Zat Allah SWT, sifat-sifat dan af’al (perbuatan)-Nya dengan makhluk mana pun. Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa denga Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura 42:11)
3.    Mengimani al-asma’ was-shifat bagi Allah SWT harus apa adanya tanpa menanyakan atau mempertanyakan (bagaiman”nya (kaifiyat). Misalnya Allah menyatakn:
“... kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy...” ( QS Ar-Ra’du 13:2)
4.    Dalam satu hadist disebutkan bahwa Allah SWT mempunyai 99 nama:
“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Tiadalah seseorang menghafalkan kecuali dia akan masuk surga. Dia itu tunggal dan menyukai yang tunggal. (HR. Bukhari Muslim).
5.    Di samping istilah al-asma’ was-shifat ada lagi istilah “ismullah al-a’zham” yaitu nama-nama Allah SWT yang dirangkai didalam do’a, antara lain seperti:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau, sesungguhnya aku bersaksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah yang tiada Tuhan selain Engakau, Yang Maha Esa, tempat segala sesutu bergantung, Yang tiada apa pun yang setara dengan-Nya...” (HR. Abu Daud, Tirmizi, Nas’i, dan Ibnu Majah).


D.    HAKIKAT DAN DAMPAK LAILAHAILLALLAH
Secara etimologi maka syahadah seseorang (bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah semata, dan sesungguhnya Muhammmad itu utusan Allah) harus mencakup tiga pengertian yaitu: musyahadah (dengan hati dan pikiran), syahadah (dengan lisan) dan half  (dengan menghilangkan segala kekurangan). (Al-Islam, 1979,26-27).
SWT semata, maka inti dari syahadah yang kedua adalah menjadikan Rasullullah SAW sebagai titik pusat keteladanan (uswah hasanah) baik dalam hubungan dengan Allah swt (hablun minallah) secara vertikal, maupun dalam hubungan dengan manusia (hablun munannas) secara horisontal.
Persaksian Lailahaillallah Muhammadarsulullah jika dipahami secara benar akan memberikan dampak positif bagi setiap muslim, yang antara lain dapat diukur dari dua sifat yang lahir dari dirinya, yakni cinta (mahabbah) dan ridha. Seorang muslim harus memberikan cintanya yang tertinggi kepada Allah SWT kemudian kepada Rasullullah SAW dan jihad dijalan Allah, sebgaimana Allah Ta’ala berfirman dalam QS Atubah ayat 24.
Setiap muslim hendaknya ridha Allah sebgai Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammmad SAW sebagai Nabi dan Rasul yang diikutinya. Sebagi dampak dari syahadatain adalah hal pokok yang ada dalam diri manusia yakni hati, akal dan jasad akan mendapat sibghah Allah hinggga utuh sebagaimana Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 138.

E.    BUAH IMAN KEPADA ALLAH
Keimanan yang benar kepada Allah SWT akan menumbuhkan rasa cinta yg kuat kepada-Nya dan mengagungkan-Nya. Juga akan nampak sekali dalam diri tiap manusia rasa khasy-yah dan takut dari-Nya serta selalu berharap kepada-Nya yg kemudian mendorong utk beribadah.
Adapun buah Iman kepada Allah, yaitu:
1.    Merealisasikan pengesaan Allah swt sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.
2.    Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai denagn nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi.
3.    Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.
BAB III
PENUTUP


Kesimpulan :

Beriman kepada Allah adalah membenarkan dengan yakin akan eksistensi Allah dan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya, pencipataan alam seluruhnya, maupun dalam penerimaan ibadat segenap hamba-Nya, serta membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mempunyai sifat kesempurnaan dan terhindar dari sifat kekurangan.
Beberapa hal yang harus kita perhatikan sehubungan dengan al-asma’ was-shifat, yaitu: Janganlah memberi nama-nama Allah SWT dengan nama-nama yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, Jangan menyamakan (tamtsil), atau memiripkan (tasybih) Zat Allah SWT, sifat-sifat dan af’al (perbuatan)-Nya dengan makhluk mana pun, Mengimani al-asma’ was-shifat bagi Allah SWT harus apa adanya tanpa menanyakan atau mempertanyakan (bagaiman”nya (kaifiyat), Dalam satu hadist disebutkan bahwa Allah SWT mempunyai 99 nama, Di samping istilah al-asma’ was-shifat ada lagi istilah “ismullah al-a’zham” yaitu nama-nama Allah SWT yang dirangkai didalam do’a.

















Daftar Pustaka:

Ilyas, Yunahar. 1992. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta : Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam.
Mubarok, Zaky. 1998. Akidah Islam. Yogyakarta: UII Press.
Utsaimin, Muh.bin Shalih. 2003. Prinsip-prinsip Dasar Keimanan. Jakarta: PT. Megatama Sofwa Pressindo.